Sustainable Investment Guidance: Langkah Nyata untuk Meningkatkan Daya Saing Indonesia

Jakarta, 17 Maret 2022 — Dengan mengusung tema ‘Recover Together Recover Stronger’, perhelatan G20 di Indonesia tahun 2022 memberikan angin segar bagi perekonomian pasca Covid-19, terlebih bagi UMKM Indonesia dan para calon mitra investasi. Kementerian Investasi/BKPM berkomitmen untuk mendukung pelaksanaan pilar kedua dalam G20 “Ensuring Sustainable and Inclusive Growth” melalui aksi nyata.

Secara kumulatif, Indonesia berhasil mencapai realisasi investasi sebesar Rp901,02 triliun sepanjang 2021 dan menciptakan lapangan kerja bagi 1.207.893 tenaga kerja. Singapura, Tiongkok dan Amerika Serikat merupakan tiga negara dengan tingkat realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) tertinggi di Indonesia pada tahun lalu. PMA berkontribusi sebesar Rp454 triliun (50,4%) dalam proporsi penanaman modal Indonesia.

Salah satu karakteristik yang berkembang pada investor Asia maupun global saat ini adalah prioritas untuk berinvestasi pada usaha yang berpeluang mencegah krisis iklim dan menurunkan emisi. Investor maupun manajer investasi juga mulai menerapkan aspek investasi bertanggung jawab dalam menyusun portofolionya. Jumlah kelolaan investasi dalam United Nations of Principle of Responsible Investment (UNPRI) juga meningkat rata-rata 15 persen setiap tahunnya dengan valuasi tercatat sebesar US$121,3 triliun per Juli 2021. Dengan jumlah wirausaha sosial tercatat lebih dari 300.000 per tahun 2018, Indonesia berpeluang untuk menjadi destinasi investasi yang menarik.

Dalam sambutannya pada acara Kick Off Sustainable Investment Guidance, Dr. Riyatno, SH, LLM, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi RI mengatakan, “Ini adalah langkah awal dari inisiatif kami untuk mengembangkan 'Sustainable Investment Guidance' yang ditujukan untuk memberikan panduan bagi pelaku bisnis besar dan kecil, serta calon investor. Proses tersebut juga akan menyediakan peta jalan untuk investasi berkelanjutan pada tiga sektor prioritas G20, yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan.”

 

Kementerian Investasi juga berkomitmen untuk memastikan panduan disusun bersama pemangku kepentingan terkait lewat proses ko-kreasi. Dilaksanakan bersama SMESCO Indonesia, KADIN dan mitra-mitra pembangunan lainnya, proses ini dirancang untuk memudahkan pemangku kepentingan memberikan masukan sehingga panduan tepat sasaran.

Leonard Theosabrata, Direktur Eksekutif SMESCO Indonesia menjelaskan, “Kolaborasi multipihak ini dibangun di bawah payung Ekonomi Membumi Collective. Kami sedang merancang deklarasi bersama dengan target konkrit untuk menampilkan potensi Indonesia di berbagai sektor. Kami juga memberikan peluang bisnis kita untuk diinvestasikan oleh delegasi luar negeri selama KTT G20 tahun ini berlangsung. Saya benar-benar percaya bahwa koalisi ini dapat berkontribusi terhadap keberlanjutan global untuk tahun-tahun mendatang.”

Senada dengan Leonard, Atika Benedikta, Impact Investment Lead ANGIN berpendapat, “Hingga saat ini, impact investment bukan lagi upaya khusus. Lebih banyak investor arus utama juga melihat dampak sebagai bagian dari portofolio mereka. Kami juga melihat pertumbuhan kewirausahaan yang berkontribusi terhadap dampak sosial dan lingkungan di seluruh rantai nilai mereka. Masalahnya terkadang upaya mereka tidak dikomunikasikan dengan baik sehingga investor tidak dapat menangkap apa yang mereka lakukan di sisi dampak.”

Berlokasi di Jakarta, peluncuran proses penyusunan Sustainable Investment Guidance dihadiri oleh lebih dari 50 peserta luring dan lebih dari 180 peserta daring yang mengikuti melalui Zoom maupun kanal Youtube Kementerian Investasi. Peserta terdiri dari pemerintah nasional dan daerah, pihak swasta dan mitra pembangunan baik dari Indonesia maupun negara anggota G20 lainnya. Dalam rangkaian talk show ini, sejumlah organisasi telah menyatakan partisipasi mereka dalam pembuatan pedoman dan harapannya akan lebih banyak organisasi lain yang turut serta dalam penyusunan Sustainable Investment Guidance ini.

Ir. Misran, M.M., Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menambahkan, “Kebijakan, perizinan, dan program kami untuk pengelolaan hutan lestari tersebar di hilir, hulu, dan tengah untuk sektor kehutanan. Ini termasuk industri besar dan industri yang dipimpin masyarakat serta telah mendapatkan kepercayaan dari masyarakat internasional seperti melalui skema SVLK.”

Wakil Ketua Umum Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan KADIN Indonesia, Silverius Oscar Unggul menyimpulkan, “Setelah ’Sustainable Investment Guidance’ siap dan kurasi bisnis sudah dilakukan dengan sesuai, KADIN dapat mendukung proses business-matching di Forum Bisnis Hijau pada puncak seri B20 di bulan Oktober 2022. Konsisten dengan nilai inklusivitas kami di KADIN, portofolio harus mencerminkan perusahaan besar dan UMKM -bahkan perusahaan sosial tertentu. Semoga upaya ini dapat menunjukkan bahwa Indonesia mampu menciptakan ekosistem yang kondusif bagi bisnis yang berkelanjutan untuk berkembang.”

 

cross
Send this to a friend