Dari Kearifan Lokal untuk Indonesia yang Lebih Tangguh

Lebih dari 3000 bencana alam terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2021 yang didominasi dengan banjir, cuaca ekstrem, longsor serta kebakaran hutan dan lahan. Pandemi Covid-19 juga telah mengakibatkan banyak kerugian baik dari sisi perekonomian, kesehatan, maupun sosial sehingga dikategorikan sebagai bencana nasional. Di sisi lain, momentum Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana atau Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) yang diselenggarakan di Bali, 23-28 Mei 2022, menegaskan posisi Indonesia sebagai aktor penting dalam agenda kebencanaan dunia paska-pandemi.

Berbagai inovasi ketangguhan bencana berbasis alam dan praktik gotong royong telah dilakukan. Salah satunya oleh Pemerintah Kabupaten Sigi yang menyusun arah kebijakan pasca bencana likuifaksi dengan Visi Sigi Hijau. Pemerintah berkolaborasi dengan masyarakat sipil mencanangkan program menanam bambu di sepanjang sempadan sungai dan daerah rentan bencana untuk memperkuat struktur tanah. Kearifan lokal ini sudah terbukti berhasil melindungi banyak lokasi di Kabupaten Sigi dari bencana longsor. 

Selain itu, Kabupaten Sintang yang baru saja didera bencana banjir berkepanjangan di tengah Pandemi Covid-19, bergotong royong mengentaskan kedaruratan bencana banjir maupun pemenuhan vaksin bagi masyarakat. Banjir terbesar di Kabupaten Sintang dalam kurun 60 tahun terakhir ini merendam 35 ribu rumah dan membuat 140 ribu orang mengungsi. “Salah satu penyebabnya adalah terbatasnya mata pencaharian di sektor seperti perkebunan besar dan ekstraktif sampai di level tapak seperti PETI atau penambangan emas tanpa izin. Karenanya, kami sudah bergerak juga lewat kebijakan untuk mengelola daerah tutupan hutan di kawasan APL yang menjadi kewenangan kelola kabupaten secara lebih lestari sesuai potensi ekonomi lokal,” ucap Kartiyus, Kepala Bappeda Kabupaten Sintang yang merupakan Ketua Umum dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari.

Sejalan dengan hal tersebut, inovasi ketangguhan bencana dan menggali potensi ekonomi lokal yang lestari ternyata dapat dirangkaimelalui perencanaan partisipatif bersama warga. Salah satu contoh yang telah dipraktekkan adalah di Desa Tampelas, Kabupaten Katingan. “Apa yang dilakukan di Tampelas adalah suatu proses perencanaan yang cukup ideal karena melibatkan masyarakat sebagai user dan pengelola. Mengetahui kebutuhan mereka apa, tantangan real-nya bagaimana, dan proses perencanaan yang sudah terjadi bukan sesuatu yang bisa diselesaikan secara instan,” ucap Erlangga Baskara, Project Coordinator Tampelas, PDW.

Hasil dari pendekatan partisipatif ini menghasilkan inovasi-inovasi yang menempatkan kearifan lokal bukan sebagai bagian dari masa lalu saja tapi esensi dari model bisnis yang menjanjikan sebagai alternatif pendapatan ramah lingkungan dan ramah sosial. Salah satu model bisnis ini adalah hilirisasi produk tersebut telah diwujudkan oleh Alam Siak Lestari (ASL). Perusahaan masyarakat ini merancang metode destilasi uap dengan suhu rendah untuk mengekstrak protein dan albumin dari ikan gabus. “Kami berusaha untuk membuat prosesnya sesederhana dan seterjangkau mungkin untuk memastikan masyarakat lokal dapat menerapkannya,” ucap Netti Gustina, salah satu peneliti muda ASL, pemudi asli Kabupaten Siak. Ia juga menerangkan bahwa kerja-kerja yang mereka lakukan berangkat dari semangat melestarikan gambut dan mengurangi bencana kebakaran hutan di Kabupaten Siak.

Praktik baik juga telah dilakukan Inkubator Usaha Lestari (INKURI) berdampingan dengan beberapa daerah di Bali yang mengedepankan konsep ekonomi membumi. “Kami ingin melihat anak-anak muda di daerah punya kepercayaan diri dan berdaya untuk menjadi agen perubahan bagi masyarakat mereka dengan mengembangkan inovasi-inovasi yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Kita berpacu dengan waktu agar tujuan untuk memastikan 1,5 derajat peningkatan suhu tidak terjadi. Anak muda daerah harus didukung agar mampu berdaya,” ucap Irma Sitompul, Direktur Program dan Kurikulum INKURI. Saat semangat ini didukung oleh pola perencanaan dan kerangka peraturan kebijakan pendukung yang tepat, maka ketangguhan bencana daerah akan meningkat. 

Semua cerita itu, terangkum dalam kegiatan diskusi dan media gathering “Lingkar Cerita: Inovasi Daerah Berbasis Alam untuk Gotong Royong Tangguh Bencana” yang diselenggarakan di Warung Bejana, Nusa Dua, Bali, pada 25 Mei 2022. Acara ini juga dihadiri oleh Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19. “Melalui perhelatan GPDRR ini, dunia mengakui ketangguhan Indonesia dalam menghadapi bencana alam maupun non alam. Semua bencana ini akibat ketidakseimbangan pola hidup manusia dengan alam dan keanekaragaman hayati. Inovasi yang disajikan hari ini sejalan dengan pendekatan ‘One Health’ yang bisa mendorong kolaborasi lintas keilmuan dan sektor - tapi tentunya tidak cukup inovasi satu daerah saja, kita ingin ada kolaborasi seluruh indonesia,“ pungkas Prof Wiku menutup kegiatan Lingkar Cerita.

cross
Send this to a friend