Kartini Hari Ini: Perempuan Penggerak Ekonomi dan Pelestari Bumi

Kartini sedang membatik dengan adik-adiknya.
(Dok Museum Pusat Jakarta/Arsip Kompas)

Dalam sambutannya di acara Side Event Seminar G20: Empowering Women Entrepreneurs through Inclusive Business, Jakarta, 23 Maret 2022, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM yang berkontribusi terhadap 60 persen PDB Nasional dengan 64 persen di antaranya adalah perempuan. Dikutip dari siaran pers yang dirilis oleh Setkab, Teten menjelaskan, “Peningkatan peran perempuan perlu didorong ke dalam pengarusutamaan kebijakan terkait UMKM, di mana perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai pemain sekunder atau pelengkap, tetapi menjadi pemain inti dalam keberlangsungan UMKM.” 

Selain data dari Kemenkop UKM, studi yang dilakukan oleh Bappenas dan British Council (2018) menunjukkan bagaimana Indonesia berkembang dengan 342 ribu usaha sosial (social enterprise) yang berdampak di penjuru negeri. Dari angka tersebut, kelompok perempuanlah yang mengambil kontrol, karena sebagian besar usaha sosial dimiliki oleh perempuan. Perempuan juga menjadi salah satu penerima manfaat mayoritas dengan total mencapai 48 persen.

Oleh karena itu diperlukan ekosistem yang terbukti dapat memberikan pondasi yang tepat bagi lebih banyak perempuan pelaku usaha untuk maju dan berkembang. Dalam catatan perjalanan ‘Success-Stories Based Policy Making’ Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), ada empat tahapan yang diperlukan untuk menuju ekosistem yang baik bagi perempuan pelaku usaha di seluruh kabupaten LTKL:

  1. Pemetaan dan basis data;
  2. Kesiapan bisnis (business readiness);
  3. Akses pasar; dan
  4. Membangun narasi.

Tahap pertama, pemetaan dan basis data. Untuk menumbuhkan identitas usaha, LTKL memulainya dengan co-create database bersama Pemerintah Kabupaten, berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi dan nasional, sehingga terdapat basis data yang solid. Kemudian proses dilanjutkan dengan mengkurasi semua produk dan layanan untuk menentukan apa yang berkelanjutan, elemen inovasi apa yang benar-benar dapat disoroti dan ditampilkan. Dari situ, produk komunikasi dibuat dan basis data disalurkan ke Kementerian/Lembaga dan mitra yang dapat membantu mengakselerasi kelompok usaha.

Tahap kedua, kesiapan bisnis. Terdapat beberapa contoh dampak dari pelatihan yang baru-baru ini diadakan di Kabupaten Siak dan Sintang, dimana para pelaku usaha belajar tentang manajemen stok dasar, memahami rantai pasok, dan bagaimana menjaga keberlanjutan dalam rantai pasok. Mereka juga mendiskusikan mengenai strategi harga dan pemasaran, quality control, serta tidak ketinggalan perihal paling aktual: digital marketing. Skills atau kemampuan-kemampuan tersebut seharusnya bisa diakses oleh seluruh perempuan pelaku usaha di Indonesia, tetapi pada kenyataannya masih sulit. Jika kita bisa membangun jaringan inkubator baik di tingkat nasional maupun lokal, ada harapan kita dapat mengatasi masalah ini.

Tahap ketiga, akses pasar. Menghubungkan perempuan pelaku usaha dengan pasar potensial, khususnya gerakan #BanggaBuatanIndonesia menjadi tahapan yang penting. Bagaimana membangun kapasitas para pelaku usaha di daerah menggunakan pendekatan bertahap, dimulai dengan kuantitas yang kecil, tetapi juga membuka peluang untuk benar-benar menembus pasar yang lebih besar -setelah ada kesiapan bisnis. Berbagai uji coba dilakukan untuk agregasi produk, juga membangun konektivitas untuk kemitraan B2B. LTKL juga memfasilitasi untuk memamerkan produk-produk kabupaten dalam berbagai ajang nasional dan menghubungkannya dengan pasar online. Selain itu, LTKL baru saja meluncurkan kertas kebijakan yang dapat mendorong peningkatan komitmen pada penggunaan produk dalam negeri -sampai setidaknya 40 persen- dengan menggunakan sistem pengadaan publik.

Tahap keempat, membangun narasi. Kabupaten Anggota LTKL memiliki lebih dari 2000 hidangan dan 1000 minuman yang berasal dari perempuan di seluruh kabupaten LTKL. Potensi keragaman makanan dan minuman ini kemudian dijual dan dipromosikan ke khalayak yang lebih luas dengan kolaborasi bersama Potato Head Group (khususnya restoran Kaum). Dari kolaborasi tersebut, berhasil ditemukan lima produk bernilai tambah baru yang bahkan ditampilkan pada KTT pembukaan G20. Capaian ini adalah sesuatu yang membantu perempuan pelaku usaha untuk menyadari betapa pentingnya membangun identitas di masa depan Indonesia yang berkelanjutan.

Salah satu inspirasi dapat kita temukan di Desa Gemba Raya, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Kegiatan menganyam yang dilakukan oleh Perempuan Dayak di desa ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga tradisi dan nilai-nilai luhur, serta tetap melestarikan alam.

Simak video selengkapnya di sini: 

cross
Send this to a friend