Ikan Gabus Bawa Perusahaan Masyarakat dari Kabupaten Siak Raih Penghargaan di Ajang Internasional

  • Perusahaan rintisan masyarakat Siak yaitu PT Alam Siak Lestari meraih penghargaan pada kompetisi MIT Solve 2021.
  • Pada kompetisi tersebut, ASL mengajukan solusi yaitu “HEAL (Healthy Ecosystem and Alternative Livelihood) Fisheries” untuk menjaga lahan gambut dengan industri bernilai tambah untuk komoditas ramah gambut sejalan dengan visi Siak Hijau.
  • Alam Siak Lestari meraih dua penghargaan yaitu MIT Solver Team Resilient Ecosystem dan GM Prize Award.

Siak, 7 Oktober 2021 – Pemerintah Kabupaten Siak sebagai salah satu pendiri dan anggota dari Lingkar Temu Kabupaten Lestari mengapresiasi PT Alam Siak Lestari (ASL) yang meraih penghargaan pada kompetisi internasional MIT Solve Challenge 2021 (MIT SOLVE) pada pertengahan September lalu. Dalam ajang yang diselenggarakan oleh universitas asal Amerika Serikat, Massachusetts Institute of Technology (MIT) tersebut, ASL mendapat dua penghargaan yakni MIT Solver Team kategori Resilient Ecosystems (Ekosistem Tangguh) dan GM Prize Award dari General Motor.

ASL berhasil meraih penghargaan setelah sebelumnya dinominasikan menjadi salah satu dari 88 finalis dari 1.800 pendaftar di 128 negara. ASL juga merupakan satu-satunya perwakilan Indonesia pada MIT SOLVE tahun ini.

“Kami sangat berbangga hati pada inovasi dan inisiatif kaum muda di Siak untuk mengembangkan hilirisasi produk bernilai tambah yang berbasis kelestarian. Anak muda berani mengembangkan produk turunan dari komoditas ramah gambut ini merupakan suatu terobosan. Semoga kemenangan ini menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya untuk mengembangkan bisnis yang berpotensi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga lingkungan,” jelas H. Husni Merza, BBA, MM, Wakil Bupati Siak.

MIT SOLVE adalah kompetisi internasional tahunan untuk mencari organisasi/perusahaan berbasis teknologi terbaik di dunia untuk memberikan solusi terhadap tantangan global. ASL mengajukan solusi berjudul “HEAL (Healthy Ecosystem and Alternative Livelihood) Fisheries”. HEAL Fisheries merupakan inovasi pertama ASL untuk menjaga lahan gambut dengan industri bernilai tambah untuk komoditas ramah gambut dari sektor perikanan

“Kebakaran lahan gambut di Siak menjadi salah satu yang berkontribusi pada kabut asap pada tahun 2015. Untuk mengatasinya pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang lebih ketat bagi perlindungan gambut termasuk Visi Siak Hijau di kabupaten Siak. Namun di sisi lain, masyarakat yang tinggal di sekitar lahan gambut masih mencari alternatif pendapatan yang ramah gambut. Dari situ tercetuslah model bisnis yang dapat membantu masyarakat sekaligus menjaga lingkungan,” jelas Musrahmad atau akrab disapa “Gun”, direktur & pendiri Alam Siak Lestari.

Dengan estimasi pasar global albumin senilai USD 6,7 juta di tahun 2026, ekstrak albumin dari ikan gabus merupakan model bisnis strategi berkelanjutan yang dapat dilakukan oleh masyarakat lokal. Ekstraksi albumin ikan gabus ini dijual ke berbagai macam industri seperti kesehatan, pangan, hingga kecantikan.

Albumin yang sudah diproses dari ikan gabus

Pada sisi pengembangbiakan, ASL berfokus pada budidaya ikan gabus di lahan konservasi gambut dan area sekat kanal – yang awalnya hanya dirancang untuk mencegah kebakaran gambut. Riset awal membuktikan bahwa kualitas ekosistem gambut yang terjaga membuat perkembangan spesies ikan gabus yang lebih sehat dengan tingkat protein yang tinggi.

“Kami mengembangkan teknologi pengembangbiakan dan produksi ikan gabus di kawasan gambut yang setelah diproduksi menjadi ekstrak albumin. Albumin merupakan protein dalam ikan yang memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan mulai dari percepatan regenerasi sel hingga penyembuhan luka. Kami terinspirasi dari tradisi masyarakat Siak yang mengukus ikan gabus sebagai obat penyembuh luka seperti persalinan maupun sunat,” jelas Aufa, salah satu peneliti muda Lab Inovasi Siak yang merupakan unit riset dan pengembangan (R&D) dari ASL.

ASL menggunakan teknologi distilasi uap suhu rendah untuk mengekstrak albumin dari ikan gabus ke dalam bentuk cair. Perusahaan ini sengaja menggunakan teknologi sederhana agar masyarakat dapat terlibat dan menggunakan dengan mudah. Sejalan dengan pendekatan tersebut, ASL juga dibentuk sebagai perusahaan berbasis masyarakat dimana kepemilikan saham juga terbuka langsung bagi masyarakat. Saat ini, badan usaha kampung (BumKam) Dayun telah menjadi salah satu pemegang saham ASL. Konsistensi inilah yang membuat mitra seperti AgrapanaBio untuk berkolaborasi dengan ASL di Kabupaten Siak.

“Pertama, kami melihat visi ASL yang sejalan dengan visi perusahaan kami yang memanfaatkan teknologi tepat guna berbasis alam untuk merestorasi lingkungan atau ekologi. ASL saat ini melakukan penelitian dan pengembangan beberapa alternatif komoditas ramah gambut, salah satunya adalah ikan gabus ini. Kedua, kami juga melihat komitmen dan kesiapan pemerintah kabupaten Siak untuk menjaga sumber daya alamnya dengan membuat payung kebijakan yang mendorong prinsip-prinsip kelestarian dalam pembangunan, pemanfaatan sumber daya alam dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui Peraturan Bupati tentang Siak Hijau,” jelas Dicky Asmoro, Direktur PT AgrapanaBio.

“Prestasi ASL di dunia internasional ini tidak akan terwujud tanpa ada dukungan dari PemKab dan masyarakat Siak. ASL tidak dapat bekerja sendiri, harus bergotong royong dengan berbagai pihak sehingga cita-cita Siak Hijau dapat terwujud. Tanpa Siak Hijau, kami tidak mungkin akan datang ke Siak” lanjutnya.

Visi Siak Hijau adalah visi kabupaten untuk menerapkan prinsip kelestarian dan keberlanjutan dalam pemanfaatan SDA sebesar-besarnya bagi masyarakat. Visi tersebut tertuang dalam Peraturan Bupati Peraturan Bupati Siak 22/2018 tentang Siak Kabupaten Hijau. Kini Perbup tersebut akan menjadi payung bagi berbagai kebijakan pembangunan di Kabupaten Siak yang harapannya dapat terjadi secara berkelanjutan termasuk insentif bagi desa yang mendorong capaian visi siak hijau (Transfer Fiskal Berbasis Ekologis - TAKE)

“Kami sangat bersemangat untuk memulai perjalanan sebagai tim MIT Solver. Melalui program ini, kami berharap bisa menerima lebih banyak dukungan untuk mengakselerasi dampak positif dari upaya yang kami lakukan. Dengan dukungan pemerintah Siak dan skema insentif bagi desa sesuai Siak Hijau, kami juga berharap dapat mengembangkan lebih banyak lagi sentra inovasi lokal seperti ASL ini di Siak, sehingga dapat berdampak pada lebih banyak desa dan melindungi lahan gambut,” pungkas Gun.

cross
Send this to a friend